cerpen remaja - cinta vs persahabatan

Posted by pos33











Cinta vs Persahabatan

Malam demi malam sepi kini menemaniku, temanku kini hanyalah bulan bintang dan kesepian. Aku menyaesal, mengapa penyesalan selalu datang terlambat? Andai saja dulu aku tak mengambil tindakan bodoh itu, mungkin malam ini aku sedang bercengkrama dan bercanda dengan semua temanku, tidak seperti malam ini dan mungkin yang akan seterusnya kulalui “ sepi “ tanpa suara tawa teman – temanku yang aku rindukan. Awal dari semua masalah ini adalah diwaktu aku dikenalkan oleh seorang pria kenalan sahabatku, pertama aku di kenalkan lewat sebuah pesan singkat. Setelah beberapa hari berlanjut hubunganku dengan pria itu tapi hanya lewat sms. Pada suatu hari, ketika aku menjalani malam bersama teman – temanku, tiba – tiba dari kejauhan aku mendengar suara motor menuju kearah kami, beberapa motor dan pria yang mengendarainya mendatangi kami. Seperti biasa karena aku orang baru di mata para pria itu aku dikenalkan dengan pria itu satu persatu, ketika sampai pada pria terakhir aku begitu terkejut ketika ia menyebutkan namanya “EGA”, serasa tak percaya malam itu aku bertemu, bertatap muka bahkan berjabat tangan langsung dengan seseorang yang selama ini menurutku hanya akan menjadi temanku di dunia sms, orang yang sebenarnya tidak mau kutemui. Tapi aku tak bisa berbuat apa – apa saat itu, aku hanya menyambut uluran tangannya dan akhirnya kami saling bertukar nama. Pada malam itu pertama kali aku bertemu dengannya, aku bingung sesaat setelah ku berkenalan dengannya serasa ada sesuatu yang menggangguku, aku terus mencari tau apa sebenarnya yang sedang terjadi padaku, setelah beberapa saat aku tersesat di dalam kebingunganku akhirnya aku menemukan jawabannya. Ya……!!! Ternyata dia begitu serupa dengan mantan kekasihku yang sampai saat ini tak dapat aku lupakan, dan mungkin jika aku dapat bertemu dia lagi dan menjalani kehidupanku seperti dahulu, mungkin aku tak akan berpisah dengannya sampai saat ini atau mungkin sampai maut yang memisahkan kami berdua. Aku banyak bertanya pada salah satu temanku tentang sifat dan kehidupannya. Ya Tuhan setelah aku mendapat informasi dari temannku semua tentangnya, aku terkejut karena betapa banyak kemiripan dia dengan kekasihku itu. Hubungan kami tetap berlanjut setelah perkenalan itu. Suatu malam aku merasa gusar hatiku tak tenang, di dalam benakku selalu terlintas wajahnya saat perkenalan itu, suaranya selalu terngiang di telingaku, kata – kata yang ia kirim padaku lewat pesan singkat (sms) selalu ku baca berkali – kali, aku tak mengerti dengan perasaanku hatiku selalu berharap dapat bertemu dengannya, setiap waktu aku selalu berharap ada dering tanda sms masuk darinya. Tuhan apakah aku sudah pantas untuk jatuh cinta lagi?? Ya Tuhan apa aku sudah siap untuk sakit hati lagi?? Ya Tuhan…….jika dia memang pilihanMu untuk menemaniku maka dekatkan kami, tapi jika dia bukan yang terbaik bagiku maka hentikanlah semua benih cinta yang sedang tumbuh di hatiku ini. Hari demi hari berlalu dengan penuh siksa bagiku, semua ini menyiksaku karena aku belum cerita pada satupun temanku tentang perasaan ini. Suatu hari salah satu temanku bertanya tentang bagaimana perasaanku dengan pria itu, karena temanku yang satu ini rupanya menyadari kalau aku punya perasaan yang lebih pada pria itu. Akhirnya saat itu juga aku jujur pada temanku itu bahwa benar dugaannya padaku, aku sayang pada pria itu, tapi aku juga memintanya untuk jangan memberitahukan semua ini pada temanku yang lain. Tanpa ku tahu ternyata temanku memberi tahukan perasaanku pada pria itu, betapa terkejutnya aku ketika diberitahukan semua itu, rasanya aku tak mau mendengar kelanjutan cerita temanku, karena di dalam benakku sudah terbayang apa yang akan dikatakan olehnya, pasti dia mengangapku sebagai wanita yang !!!!!!. Setelah ku dengarkan kelanjutan cerita temanku untuk kedua kalinya aku dikejutkan, ternyata jawaban pria itu begitu bertolak belakang dengan apa yang ada dalam pikiranku. Hatiku begitu berbunga stelah kutau dia juga suka padaku, tapi rasa senang ini langsung ku tepis lagi agar tak begitu berlebihan, karena aku tak akan percaya begitu saja dengan cerita temanku, kecuali pria itu yang langsung mengatakannya padaku. Pucuk di cinta ulampun tiba, yah kata itulah yang mungkin terus ada di dalam benakku, setelah pria itu mengatakan langsung padaku bahwa ia benar sayang padaku, kalau ia takut kehilanganku. Tapi ada satu perkataannya yang sedikit membuatku sakit hati, karena ia sudah berbohong padaku dan temanku tentang pengakuannya pada temanku waktu itu, tapi tak apa karena semua rasa sakit itu telah hancur oleh beribu bunga – bunga cinta yang sedang tumbuh begitu subur dihatiku. Setelah semua kejadian itu sekarang pesan singkat yang kami saling kirim mendapat kata tambahan, sekarang kami tak saling menyebut nama, sekarang nama kami saling memanggil dengan panggilan sayang. Ya Tuhan apa lagi ini, mengapa aku menjadi orang yang begitu ceroboh, aku mungkin orang yang paling bodoh di dunia ini, mengapa aku tak menyadari dari dulu jika salah satu dari temanku begitu mencintai pria itu, bahkan mungkin cintanya lebih besar dari pada cintaku padanya. Setelah ku tahu semua itu aku lalu memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengannya, aku coba untuk melempar jauh – jauh semua perasaan ini. Biarlah aku kehilangan orang yang kucintai, dari pada aku harus kehilangan seorang sahabat yang terlebih dahulu menjadi teman hidupku. Biarlah bunga – bunga cinta yang sempat mekar dulu layu begitu saja, karena aku tak mau lagi memupuknya. Hubungan kamipun putus begitu saja tanpa penjelasan. Sebenarnya aku sangat merasa tersiksa dengan semua ini, lama – lama aku tak bisa lagi terus membohongi hatiku seperti ini, bahwa aku masih begitu sayang padanya, wajahnya, suaranya dan dengan kata – kata mesra yang selalu ia kirimi untukku. Tiga hari sudah kulalui dengan semua penderitaan ini. Aku tak tau bagaimana caraku memberi tahunya tentang perubahan sikapku ini. Siang tlah berganti malam. Ketika ku sedang melamun memikirkan semua tindakan fatal ini, menahan semua rasa riduku yang makin memuncak ini, dari dalam rumah ku mendengar suara telepon genggamku berdering. Yah aku bisa menebak siapa yang meu menelponku malam – malam seperti ini, benar saja dugaanku jika pria itulah yang menelponku, memang sejak pertama dia melihat perubahanku dia selalu menelponku, tapi tak pernah kuangkat, karena aku tau apa yang akan dia bicarakan. Setelah ku pikir aku tak bisa terus seperti ini, aku harus menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya dengan penuh kesiapan sekaligus ketakutan, aku memberanikan diri untuk menjawab telpon darinya. Ketika suaranya terdengar, luluh sudah hatiku, suara yang selama ini begitu kurindukan kini terdengar lagi. Malam itu juga kujelaskan semua alas an mengapa ku menjauhinya, dan sekaligus memberitahunya jika aku tak bisa hidup tanpanya. Setelah mendengar semua penjelasanku dia terdiam, sepertinya dia terkejut. Dan tak lama suaranya terdengar kembali, dia lalu mengatakan bahwa dia juga begitu rindu padaku. Di ujung telpon dia terus bertannya tentang semua dan aku terus menjawab pertanyaannya. Sampai akhirnya aku bertanya, sikap apa yang seharusnya kulakukan? Seketika itu juga dia menjawab semua terserah padaku, dia memberiku dua pilihan yang teramat berat bagiku untuk memutuskan memilih yang mana. Pertama jika aku mau kita terus berhubungan tapi tidak ada seorangpun dari semua temanku yang mengetahuinya. Pilihan kedua jika aku memang lebih berat untuk meninggalkannya maka aku harus menjaga jarak dengan teman – temanku, dan jika aku lebih berat untuk meninggalkan temanku, maka aku harus siap – siap untuk kehilangannya. Kebingungan lagi –lagi menghampiriku. Mengapa semua yang ia berikan pilihan yang begitu mustahil untuk kupilih? Aku terdiam sejenak memikirkan tentang tindakanku selanjutnya. “ Aku memilih yang pertama “, seketika saja kata itu terucap dari bibirku. Aku tak mau kehilangan sahabat ataupun kekasihku, biarlah aku berbohong kepada semua temanku tentang hubungan kami ini, walaupun sudah terpikir dalam benakku apa yang akan terjadi jika suatu saat temanku mengetahui semua kebohongan ini. Mulai saat ini aku harus terus menjaga rapi rahasia ini agar tidak satupun dari temanku yang akan mengetahuinya. Hari berganti minggu, telah berlalu dengan penuh kebohongan dan rahasia antara aku dan teman – temanku. Sampai pada akhirnya kecerobohankupun berbuah pertengkaran, temanku yang juga suka pada pria itu, tanpa sepengetahuanku membuka kotak masuk handphone ku. Akhirnya apa yang aku takutkan kini terjadi, habislah aku malam itu, berjuta celaan menghujaniku, bahkan sumpah serapah yang selama ini tidak pernah kudengar, keluar dari mulutnya. Air mataku tak terbendung lagi, rasa sakit hati begitu dalam kurasakan, namun aku sadar ini semua kesalahanku. Tapi sikap teman – temanku malam itu sungguh menyimpang dari dugaanku sebelumnya. Malam itu mereka begitu marah padaku. Sampai pada saatnya keluar kata yang begitu membuatku terasa telah terbunuh “ Oooh jadi gini….! Elo lebih milih cowo itu dari pada kita sahabat lo? Ok…! Mulai sekarang lo gak usah ngurusin kita lagi, urusin aja orang yang baru lo kenal itu. Karena mulai detik ini lo bukan sahabat kita lagi! “ Dengan penuh amarah salah satu temanku mengeluarkan kalimat itu. Tanpa membela diri akupun langsung berbalik dan pulang kerumahku meninggalkan mereka yang masih penuh dengan amarah mereka masing – masing. Yah itulah yang terjadi, dan menyebabkan aku hanya dapat duduk sendiri dan bertemankan sepi dalam menjalani kehidupan ku di waktu malam tiba. Tapi ada satu lagi yang sampai sekarang menjadi rahasiaku. Aku belum bisa memberitahu pria itu tentang semua kejadian waktu malam pertengkaran itu yang begitu membuatku merasa sangat tersiksa. Karena aku takut hubungan mereka akan hancur karenaku, aku tak mau menjadi gunting pemutus hubungan mereka dengan pria itu maupun teman – temannya. Hingga saat ini aku tetap berhubungan dengan pria itu seolah tak perna terjadi apa – apa antara aku dan teman – temanku. Setiap malam aku selalu berharap, semoga saja hubunganku dengan sahabat – sahabatku dapat kembali seperti dulu. Untuk saat ini biarlah aku seperti ini, mrnjalani malam dengan kesendirian. Untuk itu aku punya pesan kepada semua yang membaca tulisanku ini. “ Jagalah persahabatanmu seperti kau menjaga kehormatanmu, karena kebersamaan kasih sayang sahabatmu lebih indah dibandingkan bunga cintamu dengan seseorang yang telah tega memutuskan persahabatanmu”